Bulan Susut

August 20, 2025
Bulan susut menggenggam malam,
Kecil keindahannya mampu menyerak sang renjana
Binar mata sendu terjatuh akan kesederhanaan sinarnya.
Maka biarkan ia menatap rindu,
Maka biarkan ia menyusut lelah,
Sebab langit malam sewaktu-waktu tak menawarkan lagi pendar rupawan-nya.

Bulan susut menggantung dalam gelapnya bumantara,
Ku lihat tubuh perahu bersandar terayun di atas ombak..
Berbaring menangkap pantulan sinar rembulan di gelapnya malam,
Seumpama pemuja yang memuja dalam keanggunan.
Jejak-jejak yang tertinggal di atas butiran pasir, seumpama saksi keindahan sinar bulan di ujung laut.
Punggung-punggung kecil itu terduduk berbicara tertawa,
Namun punggungku temaram bersama malam,
Menatap dan meratap dalam kesendirian.

Oh bulan...
Pendar rupawan-mu memberi keindahan, menyinari bumi yang gulita.
Andai diriku sepertimu..
Sudah tentu kan ku terangi jiwa yang sepi
Andai diriku sepertimu..
Kota kecil tersunyi pun pasti akan ku singgahi
Andai diriku sepertimu..
Kan ku jadikan pantulan sinarku penawar
bagi siapapun yang menatapnya..
Andai...
Sinarku..
Seindah dirimu..
Wahai rembulan!

Bulan susut menghilang di ujung pagi,
Seolah keindahanmu hanya lah fatamorgana.
Dalam sekejap punggung-punggung itu pergi
Sudah terlalu cukup menghapus rindu dan jarak.
Namun, hanya punggungku saja yang berdiri menanti..
Melihat sinarmu tergantikan sinar kehidupan sang mentari menari.

Setelah aku menunggu bersama dinginnya dirimu
Tetap saja tak mampu menghapus jarak dan rindu.
Nahasnya,
Kau begitu jauh dari jangkauanku.



20 Agustus 2025,
Ruang rindu sang rembulan.

No comments:

Powered by Blogger.