Review Novel "Dua Belas Pasang Mata" : Miss Oishi Koishi !

August 20, 2025

 


    "Matahari cerah dan angin laut sepoi-sepoi menerpa wajah Miss Oishi yang matanya masih tertuju pada orang-orang itu; sekarang sosok mereka hanya sebesar biji sesawi. Dia seakan-akan ingin menyimpan ingatan tentang seisi desa itu dalam-dalam di benaknya. Jauh di tengah laut, di mana yang terdengar hanyalah suara dayung, nyanyian anak-anak itu kembali terngiang-ngiang di telinganya. Begitu pula binar-binar mata bulat mereka terpatri dengan jelas dalam ingatannya." (halaman 100) 


    Twenty-Four Eyes atau dalam bahasa Jepang berjudul Nijushi no Hitomi ini merupakan karya dari Sakae Tsuboi yang telah diterbitkan pada tahun 1952. Sejak masa perang, Sakae Tsuboi telah memiliki beberapa novel yang ditulisnya. Sakae termasuk penulis yang terkenal dan Ia telah mendapatkan penghargaan karya sastra terbaik. Salah satu karyanya yang terkenal yaitu Nijushi no Hitomi. Kemudian buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris hingga sampai saat ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.


Detail Buku

Judul Buku : Twenty-Four Eyes/ Nijushi no Hitomi/ Dua Belas Pasang Mata

Penulis : Sakae Tsuboi

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 1952 (Jepang) / 2021 (Indonesia)

Alih Bahasa : Tanti Lesmana

Tebal : 248 hlm; 20 cm

ISBN : 9786020651792

Kategori : Novel Umum 15+


"Miss Oishi!!", begitulah sapaan kedua belas murid kelas satu. 


    Sebagai guru baru, miss Oishi ditugaskan mengajar di sebuah desa nelayan yang miskin. Di sana, miss Oishi belajar memahami kehidupan sederhana dan kasih sayang yang ditunjukkan murid-muridnya. Sementara waktu berlalu, tahun-tahun yang bagai impian itu disapu oleh kenyataan hidup yang sangat memilukan. Perang memporakporandakan semuanya, sedangkan anak-anak beserta guru, mereka harus bisa belajar menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.


    Novel "Dua Belas Pasang Mata" ini menceritakan tentang perjuangan seorang guru yang harus menempuh jarak yang sangat jauh menuju sekolah tempat di mana dirinya ditugaskan mengajar. 


    Jarak tempuh yang melelahkan, antipati orang-orang desa Tanjung terhadap keberadaan miss Oishi, dan kesabaran miss Oishi diuji dalam mendidik murid-murid kelas satu serta berbagai cara ditempuhnya untuk mengambil hati orang-orang di desa tanjung tersebut bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk dilakukan.


    Terkadang ada rasa lelah dan berhenti berjuang. Namun miss Oishi merasa bersalah jika dirinya berhenti untuk mengajar anak-anak kelas satu itu. Tidak ada yang mau untuk mengajar di desa Tanjung tersebut kecuali dirinya. Awalnya, miss Oishi begitu optimis untuk mengajar di sekolah desa Tanjung. Nahasnya, tidak semudah yang dirinya pikir  Orang-orang di sana memandang sinis dan menganggap seolah-olah dirinya tidak ada. Maklum mereka memandangnya dengan sinis karena apa yang dipakai oleh miss Oishi terlihat seperti orang barat dan tidak lupa dengan sepeda yang dibelinya dari hasil tabungannya itu terlalu modern bagi mereka, orang-orang desa. Terlebih melihat bagaimana negara mereka sedang bersitegang dengan negara barat yang notabene nya berpakaian seperti miss Oishi menambah kesan buruk di mata mereka.


    Sebenarnya buku ini sudah terbilang cukup lama terbit di Indonesia. Bahkan ketika mencari tahu tentang buku ini, ternyata buku ini telah di adaptasi menjadi sebuah film yang begitu sederhana. Saya pernah menonton film yang begitu jadul ini haha.. lumayan bagus. Akan tetapi, tetapi lebih puas membaca bukunya daripada versi filmnya, karena cerita yang ada di film tidak akan pernah selengkap cerita yang ada di buku.


    Bagi kalian yang suka atau tertarik dengan buku yang berbau pendidikan, buku "Dua Belas Pasang Mata" ini aku rekomendasikan untuk dibaca. Selain narasinya sederhana pun makna dari isi cerita mudah untuk dipahami.


*Maaf gak bisa review secara detail, karena saya ngetik ini di handphone dan itu sungguh melelahkan. Mau pakai lepi alias laptop juga gak bisa, karena rusak 😮‍💨..


No comments:

Powered by Blogger.