Anyelir
Aku adalah mimpi yang terbang mengudara,
Melayang bersama gumpalan awan malam,
Menari gemulai di tengah angin malam,
Di atas sana..
Ku tatap ramainya akasa,
Takjub melukis mata,
Bintang-bintang di dekatku telah bersinar terang
Namun bu,
Mengapa bintangku redup tenggelam bersama fajar?
Bilamana bintangku jatuh terbakar,
Hilang bersama gelapnya malam..
Akankah aku bisa melihat sinar teduh matamu?
Terbaring jiwaku di antara bunga-bunga,
Menatap lirih pada anyelir merah,
Berbisik lelah bermandikan luka,
Berbagai resah meraung dalam dada,
Kini kepala ku penuh dengan riuh tanya,
Hendak kemana arah tuju melangkah,
Jika pohon labirin menyesatkanku..
Bilamana dunia menyelimutiku
Dalam hutan kabut penuh kesunyian..
Akankah aku bisa merasakan lembutnya pelukmu?
Kemelut dunia datang menyapa,
Aku takut fananya menerkam jiwa
Dunia terlalu rumit untuk separuh jiwamu..
Aku,
Bagaikan ikan sekarat di hamparan gurun
Memekik lemas ragaku..
Aku,
Bagaikan ikan di tengah badai laut
Luluh lantak seluruh jiwaku..
Bilamana badai datang menerjang
Bersama kerasnya gemuruh lautan..
Akankah aku bisa menggenggam erat
Hangatnya tangan keriputmu?
Dirimu begitu indah bersahaja..
Tegar layaknya batu karang di tengah ombak..
Terang layaknya bulan purnama di belantara angkasa..
Hangat layaknya mentari di ujung fajar..
Lembut layaknya malaikat menebar Rahmat-Nya..
Cantik layaknya bunga yang bermekaran..
Di kehidupan manapun,
Aku hanya ingin menjadi pelita hatimu..
Di kehidupan manapun,
Aku hanya ingin bersamamu..
Bu, anak mu kini tumbuh indah berseri..
Ia bermekaran di taman anyelir yang kau tanam..
Dari segala cinta yang tercipta,
Harap dipetik penuh sayang
Oleh sosok yang tahu akan besarnya cintamu..
Dari semua bunga di taman,
Harap menjadi anyelir kehidupan
Dari tangan mungil yang menggenggamku..

No comments: